- garagedangeli – Pemerintah Malaysia mengaku tidak akan mengeluarkan izin khusus bagi para calo foto di destinasi wisata populer Kuala Lumpur. Keputusan ini dibuat setelah mempertimbangkan masalah keselamatan wisatawan dan pengguna jalan. Menteri di Departemen Perdana Menteri (Wilayah Federal) Hannah Yeoh menyampaikan hal tersebut pada Selasa, 7 April 2026.
Kunjungan lapangan baru-baru ini ke persimpangan dekat Menara Kembar Petronas mengungkap masalah keselamatan. “Apa yang kami amati adalah persimpangan tersebut bukanlah tempat yang aman untuk melakukan kegiatan fotografi. Karena alasan itu, kami tidak dapat mempertimbangkan untuk mengeluarkan izin,” kata Yeoh. Kunjungan dilakukan bersama Wali Kota Kuala Lumpur Datuk Seri Fadlun Mak Ujud serta petugas keamanan Balai Kota dan KLCC. Dalam kunjungan tersebut, mereka menemukan aktivitas calo foto sudah mulai berkurang.
Balai Kota telah memasang kamera CCTV tambahan di persimpangan tersebut. Polisi juga melakukan operasi terpadu bersama Balai Kota secara berkala. Selama kunjungan lapangan, tim mengamati penurunan signifikan aktivitas calo foto. Sistem pengumuman publik dalam berbagai bahasa juga telah dipasang. Sistem ini mengeluarkan pengingat setiap 10 menit yang menyarankan wisatawan untuk tidak menggunakan jasa calo foto.
Yeoh mengatakan penangkapan telah dilakukan melalui operasi penegakan hukum terpadu. Pemeriksaan menemukan bahwa beberapa dari mereka yang ditahan adalah warga negara asing. Mereka menggunakan identitas palsu untuk beroperasi. Langkah tegas ini diambil untuk melindungi keselamatan wisatawan dan pengguna jalan.
Para wisatawan diimbau untuk tidak menggunakan jasa calo foto ilegal. Gunakanlah jasa fotografer resmi atau abadikan momen sendiri dengan aman. Pemerintah Malaysia berkomitmen untuk terus menertibkan kawasan wisata. Keamanan dan kenyamanan pengunjung adalah prioritas utama. Operasi pengawasan akan terus ditingkatkan. Wisatawan juga diminta melapor jika menemukan aktivitas mencurigakan. Dengan kerja sama semua pihak, Kuala Lumpur akan tetap menjadi destinasi wisata yang aman dan menyenangkan.
“Baca Juga : Indonesia Raih Emas Tenis Meja Malaka 2026“
Penertiban Calo Foto Bakal Diperluas ke Jembatan Saloma Link, Imbauan Juga Dikeluarkan Wat Arun Bangkok
Pemerintah Malaysia akan memperluas penertiban calo foto ke lokasi wisata populer lainnya. “Saya telah mendapat informasi bahwa mereka juga berkumpul di sekitar jembatan Saloma Link dan tempat-tempat wisata populer lainnya. Jika kita berhasil mengurangi aktivitas tersebut, kita akan memperluas penegakan hukum ke lokasi lain,” ujar Menteri Hannah Yeoh.
Kepala Kepolisian Dang Wangi, Asisten Komisaris Sazalee Adam, sebelumnya mengatakan bahwa pemantauan terus menerus akan dilakukan. Petugas akan fokus di lokasi-lokasi penting untuk menekan aktivitas ilegal tersebut. Operasi gabungan antara polisi dan Balai Kota Kuala Lumpur akan terus ditingkatkan.
Malaysia bukan satu-satunya negara yang menghadapi masalah serupa. Di Bangkok, Thailand, Wat Arun Ratchawararam Ratchawaramahawihan (Kuil Subuh) merilis permintaan maaf menyusul keluhan publik. Perilaku beberapa fotografer lokal dinilai mengganggu wisatawan demi keuntungan pribadi.
Mengenakan pakaian tradisional saat mengunjungi kuil semakin populer di kalangan wisatawan. Wat Arun menjadi salah satu lokasi favorit untuk sesi foto. Keindahan menara prang ikonis serta dekorasi warna-warni dari porselen Tiongkok dan kerang bekas menjadi daya tarik tersendiri. Namun, maraknya calo foto mengganggu kenyamanan pengunjung.
Pihak kuil pun meminta maaf dan berjanji akan menertibkan area. Pengunjung diimbau untuk waspada dan tidak menggunakan jasa fotografer ilegal. Gunakan layanan resmi yang tersedia atau abadikan momen sendiri. Keselamatan dan kenyamanan adalah prioritas utama. Kerja sama semua pihak diperlukan untuk menjaga ketertiban di destinasi wisata. Dengan langkah tegas, diharapkan pengalaman berwisata menjadi lebih aman dan menyenangkan.
Fotografer Liar Wat Arun Berulah: Teriak pada Turis, Kuku Eksklusivitas Area, Polisi Pariwisata Thailand Turun Tangan
Tren fotografi di Wat Arun, Bangkok, memicu masalah baru. Makin banyak toko penyewaan kostum dan jasa fotografi bermunculan di sekitar kuil. Para operator sering mendekati pengunjung di dalam kompleks kuil untuk mempromosikan layanan mereka. Namun, demi hasil foto yang sempurna, beberapa fotografer bertindak berlebihan. Mereka menyingkirkan kerumunan dari latar belakang, berteriak pada turis untuk minggir, atau meminta pengunjung berhenti berjalan di area tertentu. Tindakan ini menyebabkan ketidaknyamanan besar bagi wisatawan lain.
Masalah ini mendapat perhatian lebih luas setelah Krisda “Pond” Witthayakhajorndet, pendiri Be On Cloud, membagikan pengalamannya secara daring. Ia mengkritik perilaku para fotografer yang mengganggu wisatawan dan menciptakan suasana negatif. Krisda menekankan bahwa kuil tersebut adalah ruang publik. Kuil tidak boleh dieksploitasi untuk kepentingan bisnis pribadi.
Unggahan Krisda memicu reaksi berantai. Banyak warganet berbagi pengalaman serupa saat berkunjung ke Wat Arun. Keluhan yang meluas ini mendorong Kepolisian Pariwisata Thailand untuk turun tangan. Pihak berwenang akan mengatasi situasi dan menertibkan area kuil.
Sebelumnya, Wat Arun telah merilis permintaan maaf resmi. Pihak kuil berjanji akan meningkatkan pengawasan. Pengunjung diimbau untuk waspada terhadap jasa fotografi ilegal. Gunakan layanan resmi atau abadikan momen sendiri tanpa mengganggu orang lain. Kesadaran kolektif diperlukan untuk menjaga kenyamanan di ruang publik. Dengan langkah tegas, diharapkan Wat Arun kembali menjadi destinasi wisata yang damai dan indah bagi semua.
“Baca Juga : Saka Yoga Festival Dorong Jakarta Jadi Pusat Wellness“