garagedangeli.com – Wacana pembongkaran tiang pancang monorel mangkrak di Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, kembali menjadi sorotan publik. Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung memastikan bahwa pembongkaran akan dimulai pada Januari 2026 sebagai bagian dari program penataan kawasan perkantoran utama di ibu kota.
Menurut Pramono, keberadaan tiang-tiang monorel yang terbengkalai selama hampir dua dekade telah mengganggu estetika kota dan menimbulkan risiko keselamatan. “Kami ingin Jakarta tampil sebagai kota modern yang tertata. Tiang-tiang yang tidak lagi fungsional harus segera dibongkar,” ujarnya di Balai Kota, Rabu (22/10/2025).
Proyek Monorel Mangkrak Sejak 2004
Tiang-tiang monorel di sepanjang koridor Rasuna Said dan Asia Afrika merupakan sisa proyek Jakarta Monorail yang dimulai pada 2004. Kala itu, proyek diresmikan oleh Presiden ke-5 Megawati Soekarnoputri dan Gubernur DKI Sutiyoso. Proyek ambisius tersebut digarap oleh PT Jakarta Monorail (PTJM) dengan tujuan menghadirkan transportasi massal berbasis rel modern di tengah kota.
Namun, rencana besar itu kandas karena masalah investasi dan pendanaan. PTJM gagal memenuhi komitmen finansial, menyebabkan proyek berhenti di tengah jalan. Meski sempat dibahas kembali pada era Gubernur Joko Widodo dan diteruskan oleh Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) hingga Anies Baswedan, proyek tersebut tidak pernah benar-benar dilanjutkan.
Tiang Monorel Dialihkan ke Proyek LRT Namun Tak Terealisasi
Pada 2015, Gubernur Ahok memutus kontrak dengan PT Jakarta Monorail. Seluruh aset fisik proyek, termasuk tiang-tiang beton besar yang sudah terpasang, diserahkan kepada PT Adhi Karya (Persero) Tbk untuk dikaji menjadi bagian dari proyek Light Rail Transit (LRT) Jakarta.
Namun, setelah kajian teknis dilakukan, tiang-tiang tersebut dinilai tidak memenuhi standar struktur LRT. Akibatnya, rencana pemanfaatan kembali tiang monorel pun batal. Hingga kini, deretan tiang beton setinggi belasan meter itu masih berdiri di beberapa titik, termasuk di kawasan Kuningan dan Setiabudi, tanpa kejelasan fungsi.
Baca Juga : “Restoran Bakso Lapangan Tembak Senayan Kebakaran hingga Terdengar Ledakan, 2 Orang Jadi Korban“
Pemerintah Siapkan Langkah Teknis Pembongkaran
Gubernur Pramono menjelaskan bahwa Pemprov DKI sedang menyiapkan koordinasi teknis dengan PT Adhi Karya selaku pemilik aset. Surat resmi akan dikirim dalam waktu dekat untuk memulai tahapan pembongkaran.
“Rencana pembongkaran sudah masuk dalam agenda prioritas 2026. Kami ingin memastikan prosesnya aman, tidak mengganggu lalu lintas, dan sesuai prosedur teknis,” kata Pramono. Ia menambahkan, Pemprov DKI juga akan menggandeng Dinas Bina Marga dan Dinas Perhubungan untuk mengatur lalu lintas selama pembongkaran berlangsung.
Menurut sumber internal Pemprov, pembongkaran akan dilakukan secara bertahap, dimulai dari segmen Rasuna Said yang memiliki konsentrasi tiang terbanyak. Setelah itu, proses akan berlanjut ke area sekitar Senayan dan Asia Afrika.
Tujuan Penataan dan Estetika Kota
Langkah pembongkaran ini bukan hanya untuk menghapus jejak proyek gagal, tetapi juga bagian dari upaya mempercantik wajah Jakarta. Pemprov DKI menilai, kawasan Rasuna Said yang menjadi pusat perkantoran strategis harus bebas dari infrastruktur terbengkalai agar terlihat lebih tertata dan modern.
“Penataan kawasan Rasuna Said adalah bagian dari visi Jakarta sebagai kota bisnis berstandar global,” ujar Kepala Dinas Cipta Karya, Tata Ruang, dan Pertanahan DKI, Raden Prasetyo. Ia menambahkan bahwa area bekas tiang monorel nantinya akan digunakan untuk pelebaran trotoar, jalur sepeda, dan penghijauan.
Respons Publik dan Harapan ke Depan
Rencana pembongkaran ini mendapat sambutan positif dari masyarakat dan pengamat tata kota. Pengamat perkotaan Yaya Haryanto menilai, langkah Pemprov DKI sudah tepat. “Proyek monorel yang gagal itu sudah terlalu lama dibiarkan. Pembongkaran akan memperbaiki citra tata ruang Jakarta dan membuka ruang untuk proyek transportasi masa depan,” jelasnya.
Meski demikian, ia mengingatkan agar pemerintah daerah memastikan pengelolaan limbah konstruksi dilakukan secara bertanggung jawab. “Material bekas pembongkaran bisa dimanfaatkan ulang untuk proyek infrastruktur lain agar tidak menambah beban lingkungan,” tambahnya.
Beberapa warga sekitar juga menyambut rencana ini dengan antusias. Mereka berharap pembongkaran tidak menimbulkan kemacetan parah di kawasan yang sudah padat setiap hari kerja.
Proyek Baru Pengganti Monorel
Setelah pembongkaran, Pemprov DKI berencana mengembangkan koridor transportasi terintegrasi di kawasan Rasuna Said. Konsep yang sedang dikaji meliputi integrasi jalur Transjakarta, LRT, dan MRT dengan fasilitas pendukung pejalan kaki.
“Kami ingin memanfaatkan lahan bekas tiang monorel untuk fasilitas publik yang lebih berguna, seperti halte terpadu atau taman kota,” ujar Pramono. Ia menegaskan bahwa pembongkaran tidak sekadar menghapus masa lalu, melainkan membuka peluang pembangunan baru yang lebih efisien.
Kesimpulan: Akhir dari Babak Panjang Proyek Gagal
Pembongkaran tiang monorel mangkrak di Rasuna Said menjadi simbol penutupan babak panjang proyek transportasi yang tak pernah terwujud sejak 2004. Setelah 20 tahun menjadi “monumen mangkrak”, tiang-tiang tersebut akhirnya akan dibersihkan untuk memberi ruang bagi wajah baru Jakarta.
Dengan langkah ini, Pemprov DKI berharap mampu memperbaiki tata ruang kota, meningkatkan kenyamanan publik, dan menunjukkan komitmen terhadap pembangunan berkelanjutan. Tahun 2026 akan menjadi titik balik bagi kawasan Rasuna Said menuju wajah baru yang lebih modern dan tertata.
Baca Juga : “Desak Netanyahu Patuhi Gencatan Senjata, Utusan AS dan Kepala Intelijen Mesir Kunjungi Israel”