Elon Musk, pendiri sekaligus chief engineer SpaceX, tengah mempersiapkan langkah besar menuju eksplorasi luar angkasa. Ia berencana membangun platform peluncuran roket Starship di Teluk Meksiko. Proyek ini menjadi bagian penting dari ambisi SpaceX untuk membawa manusia ke Mars pada akhir dekade ini.
Platform peluncuran laut tersebut dibangun di atas dua kilang minyak bekas yang dibeli SpaceX setahun sebelumnya. Kedua kilang bernama Phobos dan Deimos, dinamai seperti dua bulan alami planet Mars. Setelah proses pembelian, fasilitas itu diubah menjadi landasan peluncuran roket di lepas pantai, yang dirancang untuk mendukung penerbangan antarbintang.
Menurut laporan Cnet (2 Juni 2021), pembangunan fasilitas ini merupakan bagian dari rencana besar Elon Musk untuk menciptakan sistem peluncuran yang efisien, aman, dan ramah lingkungan. Dengan lokasi di tengah laut, platform ini memungkinkan roket berukuran besar seperti Starship lepas landas tanpa mengganggu area berpenduduk.
Uji Coba Starship dan Ambisi Misi Mars
Sejak 2020, SpaceX telah menguji beberapa prototipe roket Starship dari fasilitas pengembangan di Boca Chica, Texas. Uji coba ini menjadi tonggak penting dalam pengembangan roket generasi baru yang dirancang dapat digunakan berulang kali dan mampu mengangkut manusia serta kargo dalam jumlah besar.
Elon Musk menyatakan bahwa Starship bukan hanya untuk perjalanan komersial ke orbit Bumi, tetapi juga sebagai kendaraan utama dalam misi kolonisasi Mars. Ia menargetkan peluncuran pertama misi berawak ke Mars dapat dilakukan sebelum tahun 2030.
Kolaborasi SpaceX dan NASA di Stasiun Luar Angkasa Internasional
Selain mengembangkan Starship, SpaceX juga terus memperkuat kerja sama dengan NASA. Pada April 2021, SpaceX berhasil meluncurkan empat astronaut ke Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) menggunakan kapsul Crew Dragon Endeavour yang ditopang roket Falcon 9.
Menurut laporan Reuters, selama perjalanan, kru sempat beristirahat dan menikmati makanan ringan di dalam kapsul. Tahap pertama peluncuran menunjukkan keberhasilan sistem pendaratan otomatis SpaceX, ketika roket kembali ke Bumi dan mendarat di kapal drone bernama Of Course I Still Love You di Samudra Atlantik.
Pencapaian ini menandai penerbangan berawak ketiga SpaceX dalam waktu kurang dari setahun di bawah kemitraan komersial dengan NASA.
Rekor Dunia: Peluncuran 143 Satelit dalam Satu Misi
Tidak hanya fokus pada misi berawak, SpaceX juga mencetak rekor dunia dalam peluncuran satelit. Pada Januari 2021, perusahaan ini meluncurkan roket Falcon 9 yang membawa 143 satelit sekaligus dalam misi bernama Transporter-1.
Misi ini membawa 10 satelit untuk jaringan internet global Starlink, serta lebih dari 130 satelit milik berbagai klien komersial. Dua di antaranya adalah satelit penginderaan bumi milik Planet Labs dan satelit radar kecil milik ICEYE yang digunakan untuk memantau es dan banjir di berbagai wilayah dunia.
Menurut laporan CNN, pencapaian ini memecahkan rekor sebelumnya yang dipegang roket PSLV milik India, yang meluncurkan 104 satelit pada tahun 2017. Program rideshare ini memungkinkan perusahaan kecil dan lembaga penelitian untuk meluncurkan satelit dengan biaya yang lebih efisien.
Visi Jangka Panjang SpaceX: Masa Depan Transportasi Antariksa
Elon Musk secara konsisten menekankan visi jangka panjang SpaceX: menjadikan umat manusia sebagai spesies multiplanet. Pembangunan landasan laut, keberhasilan peluncuran berawak, dan rekor peluncuran satelit menjadi langkah konkret menuju cita-cita tersebut.
