AS Larang Impor Robot Humanoid, Robot Anjing, dan Inverter Daya demi Keamanan Nasional
Pemerintah Amerika Serikat (AS) menerapkan larangan impor terhadap sejumlah perangkat teknologi, termasuk robot humanoid, robot anjing, dan inverter daya. Kebijakan tersebut diambil karena pemerintah AS menilai perangkat buatan luar negeri berpotensi menimbulkan ancaman terhadap keamanan nasional.
Komisi Komunikasi Federal Amerika Serikat (Federal Communications Commission/FCC) mengumumkan aturan baru tersebut pada Selasa (28/7) waktu setempat. Kebijakan ini mencakup perangkat yang dianggap dapat digunakan untuk pengawasan, pengendalian jarak jauh, hingga mendukung aktivitas serangan siber.
FCC menyatakan perangkat teknologi tertentu yang berasal dari luar negeri dapat menghadirkan risiko apabila dikendalikan oleh pihak asing. Pemerintah AS khawatir perangkat tersebut dapat dimanfaatkan untuk mengakses data sensitif atau mengganggu infrastruktur penting.
FCC Soroti Risiko Keamanan dari Teknologi Robot Asing
Larangan impor terbaru mencakup robot humanoid, yaitu robot yang memiliki bentuk dan kemampuan menyerupai manusia. Teknologi tersebut saat ini masih berada dalam tahap pengembangan, tetapi mulai mendapat perhatian besar dari industri global.
baca juga: Kacamata Pintar Samsung Bisa Cegah Pengguna Rekam Diam-Diam
Berdasarkan data industri, sekitar 15 ribu unit robot humanoid telah dikirim ke berbagai negara sepanjang 2025. Sebagian besar pengiriman berasal dari produsen robot humanoid asal China yang saat ini menjadi salah satu pemain utama dalam sektor tersebut.
Selain robot humanoid, FCC juga memasukkan robot anjing dalam daftar perangkat yang dibatasi. Robot berkaki empat ini banyak dikembangkan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari penelitian, inspeksi industri, hingga pemantauan area tertentu.
Pemerintah AS menilai kemampuan perangkat robotik modern yang dilengkapi konektivitas internet dapat menjadi celah keamanan apabila tidak memiliki pengawasan yang memadai.
Larangan Impor Inverter Daya Berkaitan dengan Infrastruktur Energi
Selain perangkat robotik, FCC juga melarang impor inverter daya dari luar negeri. Perangkat ini berfungsi mengubah arus listrik dari sumber energi seperti panel surya agar dapat digunakan dan terhubung dengan jaringan listrik.
Inverter daya banyak digunakan oleh rumah tangga dan sektor industri di AS yang memanfaatkan energi terbarukan. Namun, FCC menilai perangkat tersebut memiliki potensi risiko karena terhubung langsung dengan sistem kelistrikan.
Meski demikian, aturan baru tersebut tidak berlaku bagi inverter daya yang sudah terpasang dan digunakan di rumah-rumah warga AS. Pemerintah hanya membatasi pemasukan perangkat baru dari luar negeri.
FCC juga membuka kemungkinan memberikan pengecualian terhadap produk tertentu apabila pemerintah memastikan perangkat tersebut tidak menimbulkan ancaman bagi keamanan nasional.
Kebijakan AS Berdampak Besar terhadap Produk Teknologi China
Larangan impor ini diperkirakan memberikan dampak signifikan terhadap perusahaan teknologi China. Negara tersebut saat ini menjadi salah satu pusat produksi global untuk berbagai perangkat robotik dan komponen teknologi energi.
Pemerintah AS sebelumnya telah menerapkan sejumlah pembatasan terhadap produk teknologi asing yang dianggap memiliki risiko keamanan. Kebijakan tersebut antara lain mencakup pembatasan terhadap aplikasi TikTok, sejumlah perangkat jaringan, serta produk pengawasan dari perusahaan China seperti Hikvision dan Dahua.
Pemerintah AS selama beberapa tahun terakhir juga menuduh China melakukan aktivitas peretasan terhadap perusahaan Amerika untuk memperoleh informasi strategis. Washington menyebut ancaman siber menjadi salah satu alasan utama dalam memperketat pengawasan teknologi asing.
China Tanggapi Larangan Impor Teknologi Baru AS
Menanggapi kebijakan FCC, pemerintah China menyatakan akan mengambil langkah yang diperlukan untuk melindungi kepentingan perusahaan negaranya.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, seperti dikutip Associated Press, mengatakan Beijing akan menggunakan berbagai langkah untuk menjaga bisnis dan industri teknologinya dari kebijakan pembatasan perdagangan.
Kebijakan terbaru AS menunjukkan meningkatnya persaingan teknologi antara Washington dan Beijing. Persaingan tersebut tidak hanya terjadi pada sektor kecerdasan buatan dan semikonduktor, tetapi juga mulai meluas ke bidang robotika dan energi terbarukan.
Ke depan, aturan pembatasan impor ini berpotensi memengaruhi rantai pasok teknologi global. Perusahaan internasional kemungkinan perlu menyesuaikan strategi produksi dan distribusi agar tetap dapat memenuhi regulasi keamanan yang diterapkan berbagai negara.
baca juga: Produksi robot humanoid China akan lampaui 100.000 unit pada 2026