Prabowo Bahas Pengembangan Rare Earth dan SDM Teknologi Bersama Mendiktisaintek
Presiden Prabowo Subianto melanjutkan agenda rapat terbatas bersama Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto di kediaman pribadi Presiden, Padepokan Garuda Yaksa, Hambalang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, pada Rabu sore. Pertemuan tersebut membahas perkembangan kerja sama teknologi, penguatan sumber daya manusia, serta strategi pengembangan mineral tanah jarang atau rare earths di Indonesia.
Rapat tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah untuk mempercepat kesiapan tenaga ahli nasional dalam menghadapi kebutuhan industri berbasis teknologi tinggi. Selain membangun kapasitas sumber daya manusia, pemerintah juga terus memantau perkembangan kerja sama strategis yang berkaitan dengan pengolahan dan pemanfaatan mineral kritis.
Baca Juga “KPU Jakarta Timur Dorong Partai Politik Memperbarui Data“
Menteri Sekretaris Negara sekaligus Juru Bicara Presiden RI, Prasetyo Hadi, menjelaskan bahwa Presiden Prabowo ingin memperoleh laporan terbaru dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi mengenai sejumlah program yang sedang berjalan, termasuk pendidikan, pelatihan, dan kolaborasi di bidang teknologi mineral tanah jarang.
Menurut Prasetyo, pembahasan tersebut berkaitan dengan persiapan tenaga kerja Indonesia agar memiliki kemampuan yang sesuai dengan kebutuhan industri masa depan. Pemerintah menilai penguasaan teknologi serta keahlian dalam sektor mineral strategis akan menjadi faktor penting untuk meningkatkan daya saing nasional.
Pemerintah Perkuat Penguasaan Teknologi dan Pengelolaan Mineral Kritis
Dalam pertemuan tersebut, Brian Yuliarto menyampaikan perkembangan berbagai kerja sama terkait mineral tanah jarang. Selain menjabat sebagai Mendiktisaintek, Brian juga memiliki peran sebagai Kepala Badan Industri Mineral yang terlibat dalam pengembangan sektor mineral strategis nasional.
Mineral tanah jarang atau rare earths merupakan kelompok logam yang memiliki nilai ekonomi dan geopolitik tinggi. Komoditas ini menjadi bahan baku penting bagi berbagai industri modern, mulai dari teknologi pertahanan, elektronik, hingga energi terbarukan.
Dalam sektor pertahanan, mineral tanah jarang digunakan untuk memproduksi berbagai komponen penting seperti mesin pesawat tempur, sistem persenjataan, teknologi radar, serta perangkat pendukung pertahanan lainnya. Sementara pada industri sipil, material tersebut dibutuhkan dalam produksi perangkat elektronik, alat komunikasi, hingga teknologi satelit.
Peningkatan kebutuhan global terhadap rare earths membuat banyak negara berlomba mengamankan pasokan dan mengembangkan kemampuan pengolahan dalam negeri. Indonesia yang memiliki potensi sumber daya mineral strategis berupaya memanfaatkan peluang tersebut untuk meningkatkan nilai tambah industri nasional.
Investasi dan Hilirisasi Rare Earth Jadi Fokus Strategis Indonesia
Presiden Prabowo sebelumnya juga telah menyampaikan ajakan kepada investor dan pelaku bisnis internasional untuk berpartisipasi dalam eksplorasi serta pengolahan mineral tanah jarang di Indonesia. Langkah ini merupakan bagian dari strategi pemerintah dalam memperkuat hilirisasi sumber daya alam dan mengurangi ketergantungan pada ekspor bahan mentah.
Pengembangan industri rare earth tidak hanya membutuhkan ketersediaan sumber daya alam, tetapi juga teknologi pengolahan yang kompleks serta tenaga ahli yang memiliki kompetensi khusus. Karena itu, penguatan pendidikan tinggi, riset, dan pelatihan menjadi aspek penting dalam pembangunan ekosistem industri tersebut.
Melalui koordinasi antara pemerintah, lembaga pendidikan, industri, dan mitra internasional, Indonesia berupaya menciptakan rantai pasok mineral strategis yang mampu bersaing di pasar global. Keberhasilan pengelolaan rare earth diharapkan dapat memberikan dampak ekonomi yang lebih besar, mulai dari penciptaan lapangan kerja, peningkatan investasi, hingga pengembangan teknologi nasional.
Rare Earth Dinilai Berperan Penting bagi Industri Masa Depan
Perkembangan teknologi global membuat kebutuhan terhadap mineral tanah jarang terus meningkat. Material ini menjadi komponen utama dalam berbagai inovasi, termasuk kendaraan listrik, energi bersih, perangkat digital, serta sistem pertahanan modern.
Karena memiliki peran strategis, pengembangan rare earth menjadi salah satu agenda penting dalam kebijakan industri berbagai negara. Indonesia pun berupaya mengambil peluang tersebut dengan memperkuat kapasitas riset, teknologi, dan sumber daya manusia agar mampu mengelola mineral kritis secara berkelanjutan.
Rapat antara Presiden Prabowo dan Mendiktisaintek menjadi salah satu langkah koordinasi pemerintah untuk memastikan kesiapan Indonesia menghadapi persaingan industri teknologi global. Dengan dukungan investasi, pengembangan ilmu pengetahuan, dan hilirisasi yang tepat, mineral tanah jarang berpotensi menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru bagi Indonesia.
Baca Juga “Aliansi Masyarakat Jaktim dukung program MBG dan berantas koruptor“