Pimpinan MPR Dorong Gus Kikin Perkuat Peran NU Hadapi Tantangan Bangsa
Wakil Ketua MPR RI Eddy Soeparno berharap kepemimpinan KH Miftachul Akhyar sebagai Rais Aam PBNU dan KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin sebagai Ketua Umum PBNU periode 2026–2031 mampu memperkuat peran Nahdlatul Ulama dalam menjawab tantangan kebangsaan.
Eddy menilai kepemimpinan baru PBNU memiliki peluang besar untuk memperluas kontribusi NU, terutama dalam menghadapi persoalan lingkungan dan ketahanan energi yang semakin penting bagi masyarakat.
Eddy Soeparno Ucapkan Selamat kepada Miftachul Akhyar dan Gus Kikin
Eddy menyampaikan ucapan selamat kepada KH Miftachul Akhyar dan Gus Kikin atas amanah baru di jajaran kepemimpinan PBNU.
Ia berharap keduanya dapat menjalankan tugas dengan baik serta menjadikan NU sebagai kekuatan moral, sosial, dan keumatan yang terus berkontribusi terhadap penyelesaian berbagai persoalan bangsa.
“Saya mengucapkan selamat kepada KH Miftachul Akhyar sebagai Rais Aam dan KH Abdul Hakim Mahfudz sebagai Ketua Umum PBNU terpilih. Semoga amanah dalam memimpin Nahdlatul Ulama dan terus membawa NU menjadi kekuatan moral, sosial, dan keumatan yang terus memberikan solusi bagi persoalan bangsa,” kata Eddy dalam keterangannya di Jakarta, Senin.
Menurut Eddy, tantangan kebangsaan tidak hanya berkaitan dengan aspek ekonomi dan sosial. Krisis lingkungan serta kebutuhan menjaga ketahanan energi juga membutuhkan perhatian dan keterlibatan berbagai elemen masyarakat.
baca juga: Kejagung Nilai Anggaran 2027 Belum Ideal, Minta Tambahan Rp 22,1 T
MPR Ajak NU Perkuat Ketahanan Energi dan Transisi Energi Bersih
Sebagai Pimpinan MPR, Eddy mengajak NU membangun kolaborasi untuk memperkuat ketahanan energi nasional. Ia juga mendorong percepatan transisi menuju sumber energi bersih dan terbarukan.
Menurut dia, agenda tersebut sejalan dengan kebutuhan Indonesia untuk meningkatkan kemandirian energi sekaligus menjaga lingkungan. Upaya itu juga berkaitan dengan amanat konstitusi mengenai hak masyarakat untuk memperoleh lingkungan hidup yang baik dan sehat.
“Saya mengajak mari berkolaborasi untuk mewujudkan ketahanan energi dan transisi menuju energi terbarukan sebagai bagian dari visi Presiden Prabowo sekaligus urgensi dakwah ekologis,” ujarnya.
Eddy menilai transisi energi tidak semata-mata merupakan agenda teknologi atau kebijakan pemerintah. Perubahan tersebut membutuhkan kesadaran masyarakat dan gerakan sosial yang dapat mendorong penggunaan energi secara lebih efisien dan berkelanjutan.
Ia berharap transisi energi dapat menjadi bagian dari upaya mencapai kedaulatan energi. Indonesia dinilai memiliki berbagai sumber daya yang dapat dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan energi nasional.
Jaringan Pesantren Dinilai Strategis dalam Gerakan Lingkungan
Eddy menegaskan bahwa penguatan ketahanan energi membutuhkan keterlibatan masyarakat secara luas. Kebijakan pemerintah dan regulasi parlemen saja dinilai belum cukup untuk menghasilkan perubahan yang berkelanjutan.
Dalam konteks tersebut, NU memiliki posisi strategis karena mempunyai jaringan pesantren, ulama, dai, lembaga pendidikan, dan komunitas yang tersebar di berbagai daerah.
Jaringan tersebut dapat menjadi sarana untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya penghematan energi dan perlindungan lingkungan.
Eddy juga membayangkan pesantren di bawah jaringan NU dapat menjadi contoh penerapan konsep ramah lingkungan. Langkah tersebut dapat dilakukan melalui pengelolaan sampah, efisiensi penggunaan energi, konservasi air, dan pemanfaatan energi surya.
Selain itu, pesantren dapat mengembangkan kegiatan ekonomi hijau yang melibatkan komunitas di sekitarnya. Model tersebut berpotensi menghubungkan pendidikan keagamaan dengan praktik keberlanjutan dalam kehidupan sehari-hari.
Pesantren Hijau Didorong Menjadi Model Ekonomi Berkelanjutan
Eddy berharap PBNU dapat memperluas gerakan lingkungan melalui pesantren dan komunitas NU. Menurutnya, pesantren memiliki peluang untuk menjadi pusat edukasi sekaligus praktik pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan.
“Saya membayangkan pesantren-pesantren NU dapat menjadi role model pesantren hijau yang bersih, mandiri energi, mampu mengelola sampah, dan menggunakan teknologi energi terbarukan. Dari pesantren, gerakan ini kemudian menyebar ke masyarakat,” kata Eddy.
Konsep pesantren hijau dapat mencakup penggunaan panel surya, pengurangan sampah, pengelolaan air, serta efisiensi konsumsi listrik. Penerapannya dapat disesuaikan dengan kondisi dan kemampuan masing-masing pesantren.
Pendekatan berbasis komunitas juga dapat memperluas dampak program tersebut. Pesantren tidak hanya menjadi penerima kebijakan, tetapi dapat berperan sebagai pusat pembelajaran yang mendorong masyarakat sekitar menerapkan praktik serupa.
Kepemimpinan Baru PBNU Diharapkan Perkuat Kontribusi untuk Bangsa
Eddy berharap kepemimpinan KH Miftachul Akhyar dan Gus Kikin dapat membawa PBNU semakin aktif menjawab persoalan strategis yang dihadapi Indonesia.
Menurutnya, pertumbuhan ekonomi perlu berjalan beriringan dengan ketahanan energi dan perlindungan lingkungan. Pembangunan yang berkelanjutan juga perlu memastikan manfaatnya dapat dirasakan masyarakat secara luas.
“Kita ingin mewariskan kepada generasi berikutnya bukan hanya Indonesia yang ekonominya tumbuh, tetapi Indonesia yang energinya berdaulat, udaranya bersih, lingkungannya terjaga, dan pembangunan ekonominya benar-benar berkelanjutan,” tutur Eddy.
Dengan jaringan sosial dan pendidikan yang luas, NU memiliki ruang besar untuk memperkuat edukasi publik mengenai lingkungan dan energi. Kolaborasi antara pemerintah, parlemen, organisasi masyarakat, pesantren, dan komunitas menjadi salah satu kunci untuk mendorong agenda tersebut.
Kepemimpinan PBNU periode 2026–2031 pun diharapkan tidak hanya memperkuat pelayanan keumatan, tetapi juga menghadirkan kontribusi nyata dalam menjawab tantangan lingkungan, energi, dan pembangunan berkelanjutan.
baca juga: Wakil Ketua MPR dorong PLTS 100 GWp jadi penggerak industri hijau