Qatar Tersingkir di Piala Dunia 2026 Usai Jadi Juru Kunci Grup B
Tim nasional Qatar harus mengakhiri langkahnya lebih cepat di Piala Dunia 2026 setelah menelan kekalahan 1-3 dari Bosnia dan Herzegovina pada laga terakhir Grup B. Hasil ini membuat Qatar finis sebagai juru kunci dan gagal melangkah ke fase berikutnya.
Pertandingan berlangsung di Stadion Seattle pada Kamis (25/6) dini hari WIB. Kekalahan tersebut menjadi penutup perjalanan buruk Qatar di turnamen, meski mereka datang sebagai juara Asia dua edisi berturut-turut.
Baca Juga “Prediksi Turki vs Amerika Serikat: Duel Beda Kepentingan“
Qatar hanya mengumpulkan satu poin dari tiga pertandingan dan gagal meraih satu pun kemenangan di fase grup.
Kekalahan Beruntun Hentikan Langkah Qatar
Qatar memulai turnamen dengan hasil buruk setelah dihajar Kanada 0-6. Kekalahan besar itu menjadi pukulan awal bagi skuad The Maroons di ajang Piala Dunia 2026.
Pada laga kedua, Qatar hanya mampu bermain imbang melawan Swiss dengan skor 1-1. Hasil tersebut menjadi satu-satunya poin yang mereka raih di turnamen.
Kekalahan dari Bosnia dan Herzegovina dengan skor 1-3 kemudian memastikan Qatar tersingkir dari kompetisi.
Performa Buruk dan Catatan Pertahanan Rapuh
Selama tiga pertandingan, Qatar hanya mencetak dua gol dan kebobolan sebanyak 10 gol. Catatan tersebut menjadikan mereka salah satu tim dengan pertahanan terburuk di fase grup.
Ketimpangan antara lini serang dan pertahanan menjadi masalah utama yang tidak mampu diatasi tim asuhan Julen Lopetegui. Qatar kesulitan menjaga konsistensi permainan sepanjang turnamen.
Hasil ini jauh berbeda dari performa mereka di level Asia, di mana Qatar dikenal sebagai tim dominan.
Kontras dengan Status Juara Asia
Qatar datang ke Piala Dunia 2026 dengan status sebagai juara Piala Asia dua kali beruntun, yakni pada 2019 di Uni Emirat Arab dan 2024 saat menjadi tuan rumah.
Namun, dominasi tersebut tidak mampu mereka bawa ke level dunia. Performa di Piala Dunia menunjukkan kesenjangan kualitas yang cukup signifikan antara kompetisi regional dan global.
Situasi ini menjadi sorotan karena ekspektasi tinggi terhadap Qatar setelah keberhasilan mereka di Asia.
Evaluasi Pelatih dan Tantangan Regenerasi
Pelatih Julen Lopetegui menyoroti pentingnya proses regenerasi pemain di tubuh tim nasional Qatar. Ia menilai pengalaman pemain senior perlu diimbangi dengan perkembangan pemain muda.
“Hal lain yang saya pelajari adalah pemain muda Qatar. Mereka harus mengambil pelajaran dari pemain yang lebih berpengalaman,” ujar Lopetegui.
Ia juga menambahkan bahwa komposisi skuad yang didominasi pemain berusia matang menjadi tantangan tersendiri dalam kompetisi intensitas tinggi seperti Piala Dunia.
Data Grup B Piala Dunia 2026
Qatar menutup Grup B di posisi terbawah dengan raihan 1 poin. Swiss memimpin klasemen dengan 7 poin, disusul Kanada dan Bosnia yang sama-sama mengoleksi 4 poin.
Secara keseluruhan, Qatar menjadi tim dengan jumlah kebobolan tertinggi di grup tersebut, sekaligus mencerminkan masalah utama yang mereka hadapi sepanjang turnamen.
Fokus ke Piala Asia 2027
Setelah kegagalan di Piala Dunia 2026, Qatar akan kembali bersiap menghadapi Piala Asia 2027 pada Januari mendatang. Mereka berstatus sebagai juara bertahan.
Qatar tergabung di Grup D bersama Jepang, Thailand, dan Indonesia. Turnamen tersebut akan menjadi kesempatan bagi mereka untuk membuktikan kembali dominasi di level Asia.
Kegagalan di Piala Dunia menjadi bahan evaluasi penting untuk memperbaiki performa di kompetisi mendatang.
Baca Juga “Pelatih Korea Tanggung Jawab usai Kalah dari Afsel di Piala Dunia“