- garagedangeli – Prof. Dr. Semiarto Aji Purwanto menilai gaya hidup konsumtif perlu dikurangi. Antropolog Indonesia itu menyoroti kebiasaan nongkrong di tempat mahal. Belanja impulsif juga termasuk jenis pengeluaran boros. Kedua aktivitas ini paling memungkinkan untuk dikurangi. Seseorang yang ingin hidup hemat atau frugal living harus mulai sadar.
“Kalau kita mau hidup sederhana, frugal living, ya jelas gaya hidup yang gagasannya adalah konsumsi barang-barang tersier,” kata Semiarto. Ia dihubungi oleh ANTARA pada Jumat. Pernyataan ini menegaskan prioritas pengeluaran yang bijak.
Semiarto adalah Guru Besar Antropologi Universitas Indonesia. Menurutnya, pengeluaran tersier paling mudah ditekan. Barang tersier adalah kebutuhan yang bersifat mewah atau pelengkap. Contohnya kopi di kafe kekinian hingga pakaian bermerek. Pola konsumsi sehari-hari bisa diatur ulang tanpa kehilangan kebahagiaan.
Kunci hidup hemat bukan berarti tidak menikmati hidup. Justru dengan mengurangi pengeluaran tidak penting, keuangan menjadi lebih sehat. Uang yang tersimpan bisa digunakan untuk kebutuhan primer. Atau dialokasikan ke investasi jangka panjang. Masyarakat diimbau mulai membedakan kebutuhan dan keinginan. Langkah kecil ini berdampak besar bagi stabilitas keuangan pribadi.
“Baca Juga :Rabiot Targetkan Bintang Ketiga untuk Prancis di Piala Dunia 2026“
Antropolog UI Sarankan Kurangi Diskon dan FOMO Demi Hidup Hemat, tapi Jangan Tekan Kesehatan
Prof. Dr. Semiarto Aji Purwanto memberi contoh nyata pengeluuran boros. Kebiasaan nongkrong di mal perlu dievaluasi. Membeli kopi premium setiap hari juga tidak esensial. Makan di tempat mahal bisa diganti dengan pilihan lebih terjangkau. Semua pengeluaran itu dapat disesuaikan dengan kemampuan masing-masing orang.
Ia menegaskan hidup hemat bukan berarti melarang hiburan. Frugal living adalah tentang mengatur prioritas secara rasional. Konsumsi tertentu tetap diperbolehkan asalkan terkendali. “Kopi sekarang kisaran harganya dari Rp5.000 sampai di atas Rp100.000. Pilihannya itu aja. Hidup disesuaikan,” katanya.
Semiarto juga menyoroti konsumsi impulsif. Kebiasaan ini didorong faktor emosional dan tren media sosial. “Ada diskon, buruan. Ada flash sale, ayo buruan. Atau sekadar FOMO (takut tertinggal tren) aja, si A, si B, si C sudah beli kok kita enggak,” ujarnya. Membeli barang karena dorongan tren sering tidak esensial. Fanatisme terhadap merek tertentu juga menjadi pemborosan. Kebiasaan mengganti gawai terlalu cepat pun bisa dikurangi.
“HP itu bisa tahan tiga sampai empat tahun, tapi karena setengah tahun sekali ada model baru, enggak perlulah kita ganti terus,” kata Semiarto. Meski demikian, ada kebutuhan yang tidak boleh ditekan secara berlebihan. Kesehatan dan pendidikan adalah prioritas utama. Kebutuhan penunjang mobilitas juga penting. Akses internet yang memadai termasuk kebutuhan dasar saat ini. Masyarakat diimbau bijak membedakan mana yang esensial dan mana yang sekadar gaya sesaat.
Antropolog: Frugal Living Bukan Sekadar Kurangi Pengeluaran, Tapi Konsumsi Bijaksana
Prof. Dr. Semiarto Aji Purwanto menegaskan prioritas utama dalam hidup. Kesehatan dan pendidikan adalah dua hal yang susah dikurangi. Kedua kebutuhan ini biasanya sudah menjadi prioritas setiap orang. “Yang susah dikurangi itu kesehatan dan pendidikan. Biasanya itu sudah prioritas,” ujarnya. Masyarakat tidak boleh menekan anggaran untuk berobat atau biaya sekolah anak.
Semiarto kemudian menjelaskan esensi sebenarnya dari gaya hidup hemat. Frugal living pada dasarnya bukan sekadar mengurangi pengeluaran. Lebih dari itu, ini tentang mengonsumsi sesuatu secara lebih bijaksana. Setiap pembelian harus sesuai dengan kebutuhan riil. Bukan sekadar memenuhi keinginan sesaat atau gengsi sosial.
Pendekatan bijaksana ini mengubah cara pandang terhadap uang. Orang yang frugal tidak pelit atau menderita. Mereka justru cerdas dalam mengalokasikan sumber daya. Uang yang dihemat bisa dialihkan ke hal lebih bermanfaat. Misalnya investasi, tabungan darurat, atau pengembangan diri. Pola ini menciptakan stabilitas finansial jangka panjang.
Masyarakat diimbau mulai menerapkan prinsip konsumsi bijaksana sehari-hari. Bandingkan harga sebelum membeli. Hindari membeli barang hanya karena diskon besar. Tanyakan pada diri sendiri apakah benar-benar membutuhkan barang tersebut. Dengan kebiasaan kecil ini, gaya hidup hemat akan terbentuk alami. Keuangan pribadi pun menjadi lebih sehat dan terkendali.
“Baca Juga : Bernard dan Terry Yudha Tambah Medali di Indonesia Track Cup“