Dehidrasi dan Hipertensi Picu Risiko Gagal Ginjal Menurut Dokter RSUI
Gangguan ginjal dapat berawal dari kondisi sederhana hingga penyakit kronis
Dokter spesialis penyakit dalam dari Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI), dr. Anindia Larasati, Sp.PD, FINASIM, menjelaskan bahwa gagal ginjal tidak muncul secara tiba-tiba tanpa sebab. Kondisi ini dapat dipicu oleh berbagai faktor, mulai dari kekurangan cairan tubuh hingga penyakit menahun seperti hipertensi.
Baca Juga “Resep Kue Satu Kacang Hijau, Kue Kering Jadul yang Lumer di Mulut“
Ia menekankan bahwa penyebab gagal ginjal perlu dipahami sejak awal karena menentukan kemungkinan pemulihan fungsi ginjal pasien.
“Gagal ginjal dipengaruhi faktor penyebab termasuk dehidrasi hingga penyakit lain seperti hipertensi,” kata Anindia kepada ANTARA di Jakarta.
Dehidrasi dapat memicu gangguan ginjal akut
Anindia menjelaskan bahwa gagal ginjal akut biasanya terjadi dalam waktu singkat, bahkan hanya dalam hitungan hari. Kondisi ini sering dipicu oleh infeksi, penurunan cairan tubuh, atau kondisi medis lain yang menyebabkan gangguan aliran darah ke ginjal.
Dehidrasi berat menjadi salah satu faktor yang paling sering ditemukan pada kasus akut. Saat tubuh kekurangan cairan, aliran darah ke ginjal menurun sehingga proses penyaringan limbah terganggu.
“Kalau penyebab seperti infeksi atau dehidrasi segera diatasi, fungsi ginjal masih bisa kembali membaik,” ujarnya.
Hipertensi berperan pada kerusakan ginjal jangka panjang
Berbeda dengan kondisi akut, gagal ginjal kronis berkembang secara perlahan dalam jangka waktu lama. Penyakit ini sering kali berawal dari gaya hidup tidak sehat yang memicu diabetes melitus dan hipertensi.
Menurut Anindia, tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol dapat merusak pembuluh darah kecil di ginjal secara bertahap. Kerusakan ini berlangsung lama tanpa gejala awal yang jelas hingga fungsi ginjal menurun signifikan.
“Hipertensi yang tidak terkontrol dalam waktu lama dapat menyebabkan gangguan ginjal yang bersifat permanen,” jelasnya.
Perbedaan gagal ginjal akut dan kronis
Data dari Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan Kementerian Kesehatan menyebutkan bahwa gagal ginjal akut merupakan penurunan fungsi ginjal yang terjadi secara mendadak. Sementara itu, gagal ginjal kronis merupakan kerusakan ginjal yang berlangsung lebih dari tiga bulan.
Pada kondisi akut, fungsi ginjal masih memiliki peluang untuk kembali normal jika penyebabnya segera ditangani. Namun, pada kondisi kronis, kerusakan umumnya sudah bersifat menetap.
Penanganan menentukan kebutuhan cuci darah
Anindia menambahkan bahwa keberhasilan penanganan sangat bergantung pada seberapa cepat penyebab utama diatasi. Pada kasus gagal ginjal akut, pasien tidak selalu membutuhkan hemodialisis jika kondisi penyebab dapat dikendalikan.
Namun pada gagal ginjal kronis, penurunan fungsi ginjal sering kali sudah tidak dapat dipulihkan. Kondisi ini membuat pasien membutuhkan hemodialisis jangka panjang untuk membantu fungsi penyaringan darah.
“Pada gagal ginjal kronis, proses penurunan fungsi ginjal sudah berlangsung lama sehingga sering memerlukan terapi cuci darah,” ungkapnya.
Pencegahan melalui kontrol kesehatan dan gaya hidup
Para ahli menekankan pentingnya pencegahan sejak dini untuk menurunkan risiko gagal ginjal. Menjaga kecukupan cairan tubuh, mengontrol tekanan darah, dan mengelola kadar gula darah menjadi langkah utama yang dianjurkan.
Pemeriksaan kesehatan rutin juga penting untuk mendeteksi gangguan ginjal sebelum berkembang menjadi kondisi berat. Pola hidup sehat seperti mengurangi konsumsi garam berlebih dan menjaga aktivitas fisik dapat membantu menjaga fungsi ginjal tetap optimal.
Kesimpulan
Gagal ginjal dapat dipicu oleh kondisi yang berbeda, mulai dari dehidrasi yang bersifat akut hingga hipertensi yang berkembang dalam jangka panjang. Penanganan cepat pada fase awal menjadi kunci untuk mencegah kerusakan permanen.
Dengan deteksi dini dan pengendalian faktor risiko, potensi gangguan ginjal dapat ditekan sehingga kualitas hidup pasien tetap terjaga.
Baca Juga “Menbud: Cagar budaya bisa dimanfaatkan secara berkelanjutan“