- garagedangeli – Banyak orang Indonesia kini familiar dengan sushi dan sashimi. Tak heran bila restoran sushi menjamur di berbagai sudut, terutama di kota-kota besar. Namun, kebanyakan dari mereka masih mengasosiasikan kedua jenis makanan Jepang itu hanya dengan salmon.
“Di Sushiro, top product-nya itu salmon nomor 1, nomor 2 baru maguro atau tuna. Jadi, mereka (konsumen Indonesia) memang masih berpikir, sushi itu ya salmon,” kata Yasmine Raudya, Marketing Manager Sushiro Indonesia, saat ditemui di Jakarta beberapa waktu lalu.
Temuan lainnya dari Sushiro setelah beroperasi di Indonesia sejak 2023 adalah bahwa makanan mentah masih ditakuti banyak masyarakat Indonesia. Hal itu memengaruhi minat mereka untuk mengeksplorasi jenis sushi selain salmon dan tuna. “Contoh kaya udang (mentah). Kita lihat saja, masih agak-agak takut untuk mencoba,” ujarnya.
Perbedaan Preferensi Berdasarkan Lokasi
Walau begitu, temuan itu hanya gambaran besar dari preferensi orang Indonesia terkait sushi dan sashimi. Jika dipelajari lebih detail, untuk gerai Sushiro yang berlokasi di sekitar Jakarta Pusat, konsumen mereka sudah lebih terbuka dengan berbagai sajian menu sushi.
“Mungkin karena mereka kebanyakan office worker yang mungkin sudah pernah mencoba sushi di Jepang langsung. Mereka sudah lebih well-educated, paham bahwa kualitas sushinya aman dan terjaga, sehingga mereka berani untuk mengeksplorasi sushi-sushi yang lain (selain salmon),” tuturnya.
Begitu pula dengan konsumen yang tinggal di utara Jakarta. Unagi, atau sidat dalam bahasa Indonesia, bahkan menjadi kategori favorit. Hanya saja, preferensi mereka cenderung dipengaruhi oleh promosi yang ditawarkan. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat keterbukaan terhadap kuliner asing sangat bervariasi tergantung lokasi dan paparan pengalaman.
Sushiro terus berupaya mengedukasi konsumen Indonesia tentang keamanan dan kelezatan berbagai jenis sushi. Mereka berharap masyarakat tidak hanya terpaku pada salmon, tetapi juga berani mencicipi hidangan autentik lainnya. Dengan promosi dan edukasi yang tepat, pola pikir konsumen diharapkan bisa berubah. Industri kuliner Jepang di Indonesia pun berpotensi tumbuh lebih beragam. Generasi muda yang lebih suka traveling dan eksplorasi makanan menjadi target utama perubahan ini.
“Baca Juga : Nasukawa Kalahkan Estrada, Jadi Penantang Wajib WBC“
Konsumen Depok Prioritas Utamakan Kehalalan, Sushiro Hadirkan Blue Fin Tuna ‘Raja Tuna’
Di sisi lain, konsumen yang berlokasi di Depok memiliki preferensi yang berbeda. Mereka lebih menekankan aspek kehalalan dalam memilih makanan. Maka itu, Sushiro menyediakan beragam saus pelengkap dengan kehalalan yang terjamin. Hal ini menunjukkan bahwa faktor keagamaan dan sertifikasi halal sangat mempengaruhi keputusan pembelian di wilayah tersebut.
Berdasarkan temuan itu, Yasmine Raudya menyatakan pihaknya terus mencoba mengedukasi konsumen. Mereka memperkenalkan jenis sushi dan sashimi selain salmon dengan berbagai cara, termasuk menawarkan promo spesial. Bulan ini, Sushiro menghadirkan varian blue fin, alias tuna sirip biru, yang dikenal sebagai “Raja Tuna”. “Yang mungkin orang tahu itu mahal ya,” kata dia.
Karakteristik Blue Fin Tuna
Warna daging tuna sirip biru cenderung lebih merah gelap sampai marun. Marbling, alias serat-serat lemaknya, lebih terlihat dan tinggi, terutama di bagian otoro. Karakteristiknya berbeda dari tuna sirip kuning (yellow fin) yang memiliki warna daging merah muda sampai cerah. “Teksturnya lebih padat (yellow fin), enggak selembut blue fin,” ujarnya.
Nyatanya, daging blue fin memang selembut itu. Teksturnya meluncur dengan mudah ke tenggorokan tanpa rasa amis sama sekali, bahkan cenderung manis. Sushiro menawarkan menu premium ini dalam periode terbatas. Tiga potong sushi blue fin dijual dengan harga Rp65.000.
Edukasi terhadap konsumen Indonesia masih menjadi tantangan. Banyak yang masih mengasosiasikan sushi hanya dengan salmon dan takut mencoba bahan mentah lainnya. Namun, Sushiro optimis dengan pendekatan yang tepat, masyarakat akan lebih berani bereksplorasi. Perbedaan preferensi berdasarkan lokasi juga menjadi perhatian serius. Mulai dari konsumen Jakarta Pusat yang well-educated, hingga konsumen Depok yang fokus pada kehalalan, Sushiro berusaha memenuhi kebutuhan semua kalangan. Dengan menghadirkan blue fin tuna, mereka berharap dapat memperluas wawasan kuliner masyarakat Indonesia.
Sushiro Indonesia Gunakan Udang Lokal Sulawesi dan Baramundi Kepulauan Seribu, Lebih Segar dari Jepang
Di luar preferensi konsumen, Sushiro Indonesia juga memanfaatkan bahan baku lokal untuk memenuhi kebutuhan restoran. Yasmine Raudya, Marketing Manager Sushiro Indonesia, bahkan menyebut baru cabang di Indonesia yang menggunakannya dengan berbagai pertimbangan.
“Karena kita agak terbatas dari logistiknya, dari supply chain-nya untuk mengimpor, jadi kami mencari alternatif agar bisa menemukan produk yang kualitasnya sama dengan di Jepang,” kata Yasmine.
Udang Vaname dari Sulawesi
Salah satu bahan baku lokal yang digunakan adalah ebi alias udang vaname yang dibudidayakan di Sulawesi. Prosesnya melalui kurasi panjang untuk menentukan kelayakan udang lokal, khususnya terkait kualitas rantai pasok. Pihak restoran memastikan bagaimana udang dikirim agar tetap segar hingga tiba di dapur.
“Dari HO (head office) Jepang, mereka bilang udang di sini lebih enak, lebih segar daripada udang di sana,” kata Yasmine. Pengakuan ini menunjukkan bahwa kualitas hasil laut Indonesia tidak kalah dengan Jepang.
Ikan Baramundi dari Kepulauan Seribu
Selain udang, Sushiro Indonesia juga menggunakan ikan baramundi yang berasal dari Kepulauan Seribu. Proses kurasi yang sama ketatnya juga diterapkan. Pihak restoran harus mengamati operasional budidaya atau pengembangbiakan ikan sehari-hari. Mereka baru akan merekrut pemasok sebagai penyedia bahan baku setelah melalui proses observasi yang mendetail.
Langkah ini merupakan bagian dari strategi Sushiro untuk mengatasi keterbatasan logistik impor. Dengan menggunakan bahan baku lokal, mereka dapat menyajikan menu yang segar dan berkualitas. Keputusan ini juga mendukung ekonomi lokal dan mempromosikan kekayaan laut Indonesia. Para konsumen pun bisa menikmati sushi dengan bahan baku pilihan dari dalam negeri. Sushiro membuktikan bahwa kuliner Jepang bisa berpadu harmonis dengan hasil alam Indonesia. Kualitas dan kesegaran menjadi prioritas utama tanpa harus bergantung sepenuhnya pada impor. Ke depan, Sushiro berencana untuk terus mengeksplorasi potensi bahan baku lokal lainnya.
“Baca Juga : Malaysia Tolak Izin Calo Foto Wisata, Soroti Keamanan“