Tiga Faktor Pemicu Penuaan Lebih Cepat yang Perlu Diwaspadai
Penuaan merupakan proses alami yang dipengaruhi oleh pertambahan usia, genetika, serta berbagai faktor dari lingkungan dan gaya hidup. Namun, sejumlah kebiasaan modern dapat memengaruhi kesehatan tubuh dan berpotensi mempercepat munculnya tanda-tanda penuaan biologis.
Pakar kedokteran fungsional asal Pennsylvania, Amerika Serikat, Dr. Will Cole, menyoroti tiga kelompok faktor yang menurutnya dapat mengganggu fungsi sel. Faktor tersebut meliputi pola makan yang tidak sehat, paparan lingkungan, serta stres kronis dan kurangnya hubungan sosial.
Cole menjelaskan bahwa perubahan lingkungan berlangsung jauh lebih cepat dibandingkan perubahan genetik manusia. Kondisi tersebut membuat tubuh menghadapi berbagai jenis tekanan yang sebelumnya tidak banyak ditemukan dalam kehidupan manusia.
“Ini berkaitan dengan makanan yang kita konsumsi atau tidak kita konsumsi, racun lingkungan yang sebelumnya tidak ada di sekitar kita, serta stres dan trauma,” kata Cole, seperti dikutip New York Post, Kamis (27/8) waktu setempat.
Pola Makan Tidak Sehat Dapat Memengaruhi Kesehatan Sel
Cole menempatkan pola makan yang tidak sehat sebagai salah satu faktor yang berpotensi mengganggu fungsi tubuh. Ia terutama menyoroti konsumsi makanan yang dapat memicu peradangan dan tidak memberikan cukup nutrisi bagi tubuh.
Pola makan yang kurang seimbang dapat memengaruhi berbagai proses penting dalam tubuh. Asupan makanan juga berperan dalam menjaga metabolisme, fungsi sistem imun, serta kemampuan tubuh melakukan perbaikan sel.
baca juga: Resmikan Wajah Baru RS Tria Dipa, Pramono Anung Sorot Layanan Uro-nefrologi
Cole turut menyoroti pola makan tanpa jadwal yang teratur. Menurut dia, kebiasaan makan sepanjang hari tanpa memberikan jeda dapat mengganggu keseimbangan proses metabolisme.
Meski demikian, pola makan dan waktu makan sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan setiap orang. Faktor usia, aktivitas fisik, kondisi kesehatan, serta kebutuhan energi turut menentukan pola makan yang tepat.
Paparan Lingkungan Menambah Beban bagi Tubuh
Faktor kedua berkaitan dengan berbagai zat dan kondisi yang berasal dari lingkungan. Cole menyebut pestisida, herbisida, serta kelompok bahan kimia yang sulit terurai sebagai contoh paparan yang perlu diperhatikan.
Dampak paparan bahan kimia terhadap tubuh tidak dapat disamaratakan. Risiko bergantung pada jenis zat, tingkat paparan, durasi kontak, serta karakteristik individu.
Selain bahan kimia, Cole juga menyinggung paparan terhadap bakteri, virus, dan jamur. Tubuh memiliki sistem pertahanan untuk menghadapi berbagai paparan tersebut, tetapi kondisi kesehatan secara keseluruhan dapat memengaruhi respons tubuh.
Paparan cahaya pada malam hari juga menjadi perhatian. Cahaya dengan kandungan biru yang tinggi dapat mengganggu ritme sirkadian pada sebagian orang, terutama ketika seseorang terpapar menjelang waktu tidur.
Sebaliknya, menjaga jadwal tidur dan bangun secara konsisten serta memperoleh paparan cahaya alami pada siang hari dapat membantu mempertahankan ritme sirkadian. Kebiasaan tersebut juga mendukung kualitas tidur yang baik.
Stres Kronis dan Kurangnya Koneksi Sosial
Faktor ketiga mencakup tekanan psikologis yang berlangsung dalam jangka panjang. Cole menyebut stres kronis dan trauma yang belum terselesaikan sebagai kondisi yang dapat memberikan tekanan tambahan terhadap tubuh.
Stres akut merupakan respons alami tubuh terhadap situasi tertentu. Namun, stres yang berlangsung terus-menerus dapat memengaruhi berbagai proses fisiologis, termasuk tidur, metabolisme, dan fungsi sistem kekebalan tubuh.
Cole juga menyoroti pentingnya hubungan sosial. Kurangnya koneksi dengan orang lain dapat memengaruhi kesejahteraan seseorang, terutama ketika kondisi tersebut berlangsung dalam waktu lama.
Sejumlah penelitian observasional juga menemukan hubungan antara keterlibatan dalam aktivitas sosial, keagamaan, atau spiritual dengan berbagai indikator kesehatan. Namun, hubungan tersebut tidak serta-merta membuktikan bahwa aktivitas tertentu secara langsung mencegah penuaan.
Menurut Cole, seseorang dapat membangun koneksi tersebut melalui berbagai bentuk komunitas atau sistem kepercayaan. Hubungan dengan alam juga dapat menjadi salah satu cara untuk membantu seseorang memperoleh rasa keterhubungan.
Kebisingan Seluler Dikaitkan dengan Penuaan Biologis
Cole menggunakan istilah cellular noise atau kebisingan seluler untuk menggambarkan gangguan yang menurutnya dapat memengaruhi komunikasi antarsel. Ia mengaitkan kondisi tersebut dengan berbagai tekanan dari pola hidup dan lingkungan modern.
Ia juga menggunakan istilah epigenetic noise untuk menggambarkan gangguan pada proses yang mengatur aktivitas gen. Epigenetik memang berperan dalam mengatur ekspresi gen tanpa mengubah urutan DNA.
Namun, istilah tersebut dalam konteks penjelasan Cole sebaiknya dipahami sebagai kerangka penjelasan, bukan diagnosis medis. Penuaan biologis sendiri merupakan proses kompleks yang melibatkan kerusakan sel, perubahan metabolisme, peradangan, serta berbagai mekanisme biologis lainnya.
Cole mengatakan tekanan kehidupan modern dapat memengaruhi tubuh tanpa selalu menghasilkan gejala yang langsung terlihat. Menurut dia, menjaga kesehatan fisik, mental-emosional, dan spiritual dapat membantu tubuh menghadapi berbagai tekanan tersebut.
“Sel menjadi kebingungan dan tidak tahu bagaimana berfungsi dengan baik maupun memperbaiki dirinya sendiri. Kita hanya perlu memberikan kesempatan kepada tubuh untuk melawan dan mampu mendengar di tengah kebisingan tersebut,” ujar Cole.
Gaya Hidup Sehat Tetap Menjadi Langkah Penting
Penuaan tidak dapat dihentikan sepenuhnya karena merupakan bagian alami dari kehidupan. Namun, sejumlah faktor gaya hidup dapat memengaruhi kesehatan sepanjang perjalanan hidup dan turut menentukan kualitas penuaan seseorang.
Pola makan bergizi seimbang, aktivitas fisik rutin, tidur yang cukup, serta pengelolaan stres merupakan beberapa kebiasaan yang secara umum mendukung kesehatan. Mengurangi paparan terhadap zat berbahaya juga dapat menjadi bagian dari upaya menjaga kesehatan jangka panjang.
Karena setiap orang memiliki kondisi berbeda, perubahan pola hidup sebaiknya tidak didasarkan pada satu teori atau klaim kesehatan saja. Konsultasi dengan tenaga kesehatan dapat membantu menentukan langkah yang sesuai dengan kebutuhan dan kondisi masing-masing.
Dengan memahami faktor yang berpotensi memengaruhi kesehatan sel, masyarakat dapat lebih memperhatikan kebiasaan sehari-hari. Pendekatan tersebut tidak hanya berfokus pada penampilan, tetapi juga pada upaya mempertahankan fungsi tubuh dan kualitas hidup seiring bertambahnya usia.
baca juga: Studi temukan lingkungan asri bisa lindungi risiko depresi usia lanjut