- garagedangeli – Hasil tangkapan ikan sapu-sapu mencapai 6,9 ton di lima wilayah Jakarta pada Jumat, 17 April 2026. Usai ditangkap, ikan dimusnahkan dengan cara dibelah dan dikubur. Melihat banyaknya hasil tangkapan ini, masyarakat awam bertanya-tanya apakah ikan sapu-sapu (Pterygoplichthys pardalis)—yang habitat asalnya di Sungai Amazon, Amerika Selatan—bisa dimakan?
Guru Besar Bidang Keamanan Pangan IPB University, Profesor Ahmad Sulaeman, menjelaskan bahwa pada dasarnya bisa dikonsumsi asal berasal dari perairan tidak tercemar atau dibudidayakan di lingkungan yang bersih. Namun, bila melihat kondisi Indonesia yang mana sebagian besar sungai telah terpapar limbah pabrik dan rumah tangga, maka tidak dianjurkan mengonsumsi ikan sapu-sapu.
“Hal ini disebabkan habitat dan kebiasaan hidup dari ikan ini adalah di dasar sungai, rawa, got, dan makan lumpur serta sisa organik, sehingga ikan ini gampang mengakumulasi racun dari lingkungan hidupnya,” kata Ahmad.
Habitat dan kebiasaan itu membuat yang berasal dari perairan tercemar memiliki risiko mengandung logam berat seperti merkuri, timbal, dan kadmium yang berasal dari limbah pabrik dan limbah rumah tangga. Ikan sapu-sapu termasuk benthic (pemakan dasar) yang menyaring sedimen dan partikel organik dari substrat. Karena itu, bioakumulasi logam berat dalam dagingnya bisa sangat tinggi, terutama di perairan padat industri seperti di wilayah Jakarta dan sekitarnya.
Prof Ahmad menegaskan bahwa mengonsumsi ikan sapu-sapu dari perairan tercemar dapat menyebabkan gangguan kesehatan dalam jangka panjang, antara lain kerusakan ginjal, gangguan sistem saraf, hingga risiko kanker akibat paparan logam berat. “Bahkan setelah dimasak dengan suhu tinggi sekalipun, logam berat tidak akan hilang,” ujarnya.
Sementara itu, di negara asalnya seperti Brasil dan Peru, ikan sapu-sapu justru dikonsumsi secara luas karena dibudidayakan di kolam bersih dengan pakan terkontrol. Di sana, ikan ini dikenal dengan nama cascudo atau acari dan diolah menjadi sup, panggang, atau pepes. Namun di Indonesia, budidaya ikan sapu-sapu untuk konsumsi masih sangat jarang dilakukan.
Dengan demikian, meskipun secara ilmiah sapu-sapu bisa dimakan, kondisi perairan Indonesia yang mayoritas tercemar membuat risikonya terlalu tinggi. Pemerintah daerah pun lebih memilih memusnahkan hasil tangkapan daripada memanfaatkannya untuk pangan. Masyarakat diimbau tidak mengonsumsi ikan sapu-sapu yang berasal dari sungai, got, atau danau di wilayah perkotaan dan sekitar kawasan industri.
“Baca Juga : YouTube Uji Fitur Auto Speed dan On-the-go“
Efek Makan Ikan Sapu-Sapu: Dari Mual hingga Kerusakan Ginjal, Tergantung Tingkat Pencemaran
Pada orang yang telanjur makan ikan sapu-sapu, Ahmad menjelaskan bahwa dampaknya sangat tergantung dari tiga faktor: sumber ikan (seberapa tercemar habitatnya), seberapa banyak ikan dikonsumsi, dan seberapa sering mengonsumsinya.
“Kalau dari sungai yang sangat tercemar dan dalam jumlah yang cukup banyak atau semisal secara rutin sering mengonsumsinya, tentu akan cukup berbahaya, terutama kalau kandungan logam beratnya cukup tinggi,” tutur Ahmad.
Jika seseorang mengonsumsi ikan sapu-sapu sekali dalam jumlah sedikit, sebenarnya tubuh memiliki kemampuan untuk mendetoksifikasinya secara alami melalui hati dan ginjal. Namun, jika mengonsumsi dalam jumlah cukup banyak atau secara rutin, bisa menimbulkan efek akut maupun kronis.
Efek akut yang bisa dirasakan dalam waktu 1–24 jam setelah konsumsi antara lain: mual, muntah, diare, sakit perut (gastroenteritis), pusing, sakit kepala, atau gatal-gatal akibat reaksi alergi kulit. Gejala ini muncul karena ikan yang tercemar mengandung bakteri patogen, histamin, atau logam berat dalam kadar tinggi yang langsung mengiritasi saluran cerna.
Efek kronis baru muncul setelah paparan berulang dalam jangka waktu bulanan hingga tahunan. Akumulasi logam berat seperti merkuri (Hg), timbal (Pb), dan kadmium (Cd) dalam tubuh dapat menyebabkan kerusakan ginjal progresif, gangguan fungsi hati, penurunan kecerdasan pada anak, gangguan sistem saraf tepi (kesemutan, tremor), hingga peningkatan risiko kanker. Pada ibu hamil, paparan merkuri dapat menyebabkan cacat lahir dan gangguan perkembangan janin.
Prof Ahmad Sulaeman menekankan bahwa memasak dengan suhu tinggi—baik direbus, digoreng, atau dipanggang—tidak mampu menghilangkan logam berat dari daging ikan. Logam berat bersifat non-termolabil, artinya tidak hancur oleh panas. Satu-satunya cara aman untuk mengonsumsi ikan sapu-sapu adalah memastikan ikan berasal dari perairan yang benar-benar bersih atau hasil budidaya dengan pakan terkontrol.
Sayangnya, sebagian besar sungai di Indonesia—terutama di Pulau Jawa—telah tercemar limbah industri tekstil, elektronik, baterai, serta limbah rumah tangga yang mengandung deterjen dan logam berat. Oleh karena itu, pemerintah daerah lebih memilih memusnahkan hasil tangkapan sapu-sapu (seperti 6,9 ton di Jakarta) daripada memanfaatkannya untuk pangan. Masyarakat diimbau untuk tidak mengonsumsi ikan sapu-sapu dari alam, meskipun terlihat sehat dan segar.
“Baca Juga : Sean Gelael Fokus Konsistensi di WEC 2026 Imola“