Empat Spesies Merpati Gunung dalam Satu Genus yang Unik

Merpati GunungEmpat Spesies Merpati Gunung dalam Satu Genus yang Unik

garagedangeli.com – Merpati gunung adalah kelompok burung dari genus Gymnophaps dalam keluarga Columbidae. Genus ini pertama kali diperkenalkan oleh ahli zoologi asal Italia, Tommaso Salvadori, pada tahun 1874. Saat ini, Gymnophaps mencakup empat spesies utama, yaitu merpati gunung papua (Gymnophaps albertisii), merpati gunung buru (Gymnophaps mada), merpati gunung seram (Gymnophaps stalkeri), dan merpati gunung pucat (Gymnophaps solomonensis).

Burung-burung ini hidup di hutan perbukitan dan pegunungan wilayah timur Indonesia hingga barat Melanesia. Mereka dikenal dengan ciri khas kulit merah cerah di sekitar mata dan perilaku sosial yang kuat.


Asal Usul dan Taksonomi Genus Gymnophaps

Genus Gymnophaps berasal dari bahasa Yunani Kuno, yaitu gumnos yang berarti “telanjang” dan phaps yang berarti “merpati”. Nama ini merujuk pada kulit tanpa bulu di sekitar mata burung tersebut.

Tommaso Salvadori menetapkan Gymnophaps albertisii sebagai spesies acuan genus ini. Pada awalnya, sebagian ilmuwan sempat memasukkan beberapa spesiesnya ke dalam genus Columba. Namun, penelitian lanjutan pada abad ke-20 menegaskan bahwa Gymnophaps adalah genus tersendiri yang berkerabat dekat dengan Lopholaimus (merpati jambul) dan Hemiphaga.

Kajian genetik tahun 2007 oleh ahli biologi Brasil, Sérgio Luiz Pereira, menemukan bahwa Gymnophaps berada dalam satu kelompok besar bersama Ducula, Ptilinopus, dan Alectroenas. Hubungan ini menunjukkan adanya garis keturunan kuno di antara merpati tropis penghuni Asia-Pasifik.


Ciri Fisik dan Karakteristik Utama

Keempat spesies merpati gunung memiliki ukuran tubuh sedang, dengan panjang 33–38,5 cm dan berat 259–385 gram. Warna bulu mereka bervariasi dari abu-abu kusam, cokelat kemerahan, hingga putih keabu-abuan.

Ciri paling mencolok adalah kulit merah cerah yang melingkari mata. Bagian punggung biasanya berwarna abu-abu kebiruan dengan pola bersisik pada sayap. Sebagian besar spesies sulit dibedakan antara jantan dan betina, namun pada merpati gunung papua dan pucat terdapat sedikit perbedaan fisik (dimorfisme seksual).


Empat Spesies Utama Merpati Gunung

1. Merpati Gunung Papua (Gymnophaps albertisii)

Spesies ini memiliki tubuh sepanjang 33–36 cm dengan bulu atas abu-abu kusam. Tenggorokan dan perut berwarna merah marun, sedangkan ujung ekor berwarna abu-abu pucat. Betina tampak serupa, hanya bagian dadanya lebih keabu-abuan.

2. Merpati Gunung Buru (Gymnophaps mada)

Spesies ini endemik di Pulau Buru. Tubuhnya berwarna biru keabu-abuan dengan dada putih kemerahan. Betina lebih kecil dan berwarna lebih gelap.

3. Merpati Gunung Seram (Gymnophaps stalkeri)

Burung ini hanya ditemukan di Pulau Seram. Ciri khasnya adalah wajah merah jambu kekuningan, bagian bawah tubuh merah anggur, dan bulu ekor cokelat gelap.

4. Merpati Gunung Pucat (Gymnophaps solomonensis)

Spesies ini hidup di Kepulauan Solomon. Panjang tubuhnya mencapai 38 cm, dengan warna kepala abu-abu keputihan dan dada merah muda kekuningan.

Baca Juga : “Banding Ditolak, Hukuman Vadel Badjideh Diperberat Jadi 12 Tahun Penjara


Habitat dan Persebaran

Merpati gunung hidup di hutan-hutan perbukitan dan pegunungan tropis. Mereka dapat ditemukan dari dataran tinggi Papua hingga kepulauan Melanesia.

Setiap spesies memiliki wilayah sebaran yang tidak tumpang tindih (alopatrik). Misalnya, G. mada hanya di Pulau Buru, G. stalkeri di Seram, G. albertisii di Papua, dan G. solomonensis di Kepulauan Solomon.

Meski tinggal di pegunungan, burung ini kadang “turun gunung” ke dataran rendah untuk mencari makan, terutama saat musim hujan.


Pola Makan dan Perilaku Sosial

Merpati gunung termasuk burung frugivora atau pemakan buah. Mereka menyukai buah ara dan buah berbiji tunggal berdaging tebal. Aktivitas makan umumnya dilakukan di tajuk pohon tinggi.

Burung ini hidup berkelompok dalam jumlah 10–40 ekor. Kadang, saat pohon berbuah lebat, jumlahnya bisa mencapai lebih dari 100 ekor. Mereka dikenal tenang dan jarang bersuara, kecuali bunyi kepakan sayap keras saat terbang meninggalkan tempat bertengger di pagi hari.


Perkembangbiakan dan Sarang

Merpati gunung memiliki dua tipe sarang. Ada yang membangun sarang sederhana dari ranting di atas pohon, dan ada pula yang membuat cekungan dangkal di tanah atau rerumputan pendek.

Setiap kali bertelur, betina hanya menghasilkan satu butir telur putih. Musim kawin bervariasi tergantung spesies. Di Pegunungan Schrader, Papua, musim kawin terjadi antara Oktober hingga Maret, sedangkan di Kepulauan Solomon berlangsung antara Juli dan September.

Burung jantan kerap melakukan atraksi terbang menukik tajam untuk menarik perhatian betina.


Status Konservasi dan Upaya Pelestarian

Menurut Daftar Merah IUCN, keempat spesies merpati gunung masuk kategori “risiko rendah” karena populasinya stabil dan penyebarannya luas.

Populasi merpati gunung buru diperkirakan antara 20.000–50.000 ekor, sedangkan merpati gunung pucat melimpah di beberapa pulau Solomon. Meski belum mengkhawatirkan, pelestarian habitat tetap penting untuk menjaga populasi di masa depan.


Kesimpulan

Merpati gunung dari genus Gymnophaps merupakan kelompok burung unik penghuni pegunungan tropis timur Indonesia dan Melanesia. Dengan empat spesies berbeda yang hidup terpisah secara geografis, burung ini menjadi contoh menarik dari evolusi alopatrik.

Keberadaan mereka yang masih stabil menunjukkan pentingnya konservasi ekosistem pegunungan sebagai rumah bagi keanekaragaman hayati yang khas.

Baca Juga : “Ariel NOAH Resmi Perankan Dilan ITB 1997, Netizen: Ketuaan

By setnis