Pamekasan Perkuat Sapi Madura untuk Dukung Swasembada Daging
Pamekasan, Jawa Timur, terus memperkuat pengembangan sapi Madura untuk mendukung target swasembada daging sapi nasional. Pemerintah daerah mendorong peningkatan populasi sekaligus menjaga kualitas sapi lokal melalui sejumlah program peternakan.
Sapi Madura menjadi salah satu potensi peternakan penting di Pulau Madura. Selain lekat dengan tradisi karapan sapi, ternak lokal tersebut juga menjadi sumber ekonomi bagi masyarakat dan berperan dalam penyediaan daging nasional.
Pemerintah Kabupaten Pamekasan mengembangkan program Sang Sultan atau Strategi Pengembangan Sapi Madura Bibit Secara Simultan. Pemerintah juga menjalankan program Papa Baru yang mencakup Kecamatan Pakong, Pasean, Batumarmar, dan Waru.
Program Sang Sultan Percepat Perkembangbiakan Sapi Madura
Program Sang Sultan diarahkan untuk mempercepat peningkatan populasi sapi Madura dengan memperpendek jarak kelahiran. Upaya tersebut menjadi bagian dari strategi pemerintah daerah dalam memperbanyak sapi produktif sekaligus mempertahankan kualitas bibit lokal.
Menurut Wakil Bupati Pamekasan Sukriyanto, program tersebut menunjukkan perkembangan positif dalam beberapa tahun terakhir. Ia menilai penguatan peternakan sapi Madura dapat membantu pemerintah mencapai target swasembada daging sapi.
“Ini tentu sangat mendukung program pemerintah pusat yang menginginkan Indonesia bisa swasembada daging,” kata Sukriyanto.
Program Sang Sultan berhasil memangkas jarak kelahiran sapi dari sekitar 18 bulan menjadi 12 bulan. Perubahan tersebut memungkinkan peternak memperoleh tambahan populasi dalam waktu lebih singkat.
Kualitas sapi bibit juga mengalami peningkatan. Jumlah sapi berkualitas bagus atau grade 1 meningkat dari 120 ekor menjadi 5.337 ekor selama program berjalan.
baca juga: Tekan Biaya Logistik, Purbaya Minta Aturan Kargo Udara Dikebut
Selain itu, jumlah akseptor yang melahirkan setiap tahun naik dari 5 persen menjadi 40 persen. Pemerintah daerah juga telah menerbitkan 2.959 surat keterangan layak bibit selama pelaksanaan program.
Papa Baru Dikembangkan di Empat Kecamatan
Pamekasan juga mengembangkan program Papa Baru di Kecamatan Pakong, Pasean, Batumarmar, dan Waru. Program tersebut menjadi bagian dari penguatan kawasan peternakan sapi Madura di wilayah yang memiliki potensi pengembangan ternak.
Pengembangan berbasis kawasan membantu pemerintah daerah mengarahkan pembinaan peternak, peningkatan kualitas bibit, serta pengelolaan populasi secara lebih terukur. Pendekatan tersebut juga dapat memperkuat ketersediaan sapi lokal untuk memenuhi kebutuhan daging.
Upaya Pamekasan sejalan dengan kebijakan pemerintah pusat yang menargetkan Indonesia mencapai swasembada daging sapi dalam lima hingga enam tahun ke depan. Presiden Prabowo Subianto menyampaikan target tersebut dalam Sidang Tahunan MPR RI 2026 di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, pada 14 Agustus 2026.
Indonesia Masih Menghadapi Defisit Daging Sapi
Target swasembada daging sapi bukanlah agenda baru. Pemerintah telah mencanangkannya sejak 2014, tetapi produksi dalam negeri hingga kini belum mampu sepenuhnya memenuhi kebutuhan nasional.
Badan Pusat Statistik mencatat produksi daging sapi Indonesia mencapai 499.150 ton pada 2025. Namun, proyeksi produksi dan konsumsi daging sapi serta kerbau periode 2024–2029 menunjukkan Indonesia masih menghadapi kesenjangan pasokan.
Pada 2025, produksi daging sapi potong diperkirakan mencapai 473.900 ton. Sementara itu, produksi daging kerbau diproyeksikan sekitar 17.800 ton sehingga total penyediaannya mencapai sekitar 491.700 ton.
Pada periode yang sama, kebutuhan konsumsi diperkirakan mencapai 724.200 ton. Kondisi tersebut menghasilkan defisit sekitar 232.500 ton.
Kekurangan pasokan diproyeksikan masih terjadi dalam beberapa tahun berikutnya. Defisit diperkirakan mencapai 296.400 ton pada 2026, kemudian 247.500 ton pada 2027, dan 239.700 ton pada 2028.
Pemerintah menyiapkan berbagai langkah untuk mengurangi kesenjangan tersebut. Upayanya mencakup peningkatan populasi sapi dan kerbau dalam negeri serta penyediaan sapi potong bakalan dan daging beku melalui impor.
Kementerian Pertanian juga menyiapkan program percepatan dengan mendatangkan sapi betina produktif dari luar negeri mulai tahun anggaran 2027. Kebijakan tersebut ditujukan untuk mempercepat pertumbuhan populasi dan meningkatkan ketersediaan daging.
Sapi Madura Jadi Modal Penguatan Produksi Lokal
Pengembangan sapi Madura di Pamekasan memberikan alternatif penguatan produksi berbasis sumber daya lokal. Peningkatan jarak kelahiran dan kualitas bibit dapat membantu memperbesar populasi sapi secara berkelanjutan.
Pemerintah Provinsi Jawa Timur sebelumnya juga telah mencanangkan Pulau Madura sebagai Pulau Sapi. Kebijakan tersebut memperkuat posisi Madura sebagai salah satu kawasan penting dalam pengembangan sapi lokal di Indonesia.
Dengan peningkatan populasi, kualitas bibit, dan produktivitas reproduksi, Pamekasan memiliki peluang memperbesar kontribusinya terhadap pasokan daging nasional. Keberlanjutan program juga akan bergantung pada pembinaan peternak, kesehatan hewan, ketersediaan pakan, serta konsistensi pengembangan bibit.
Penguatan sapi Madura tidak hanya diarahkan untuk mengejar jumlah ternak. Pemerintah daerah juga perlu menjaga karakteristik dan kualitas ras lokal agar peningkatan produksi berjalan seiring dengan pelestarian sumber daya genetik ternak Indonesia.
Langkah tersebut dapat menjadi bagian dari strategi jangka panjang untuk mengurangi ketergantungan pada pasokan daging dari luar negeri. Bagi Pamekasan, keberhasilan program peternakan sapi Madura sekaligus membuka peluang meningkatkan pendapatan peternak dan memperkuat ekonomi daerah.
baca juga: Pemkab Sumenep lestarikan budaya karapan sapi Madura