MENTAN AMRAN KAWAL CETAK SAWAH DAN OPTIMALISASI LAHAN 137 RIBU HEKTARE DI PAPUA UNTUK SWASEMBADA PANGAN
PROGRAM STRATEGIS PANGAN DI TANAH PAPUA DIPERCEPAT
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman memimpin langsung percepatan program cetak sawah dan optimalisasi lahan (oplah) seluas 137 ribu hektare di Tanah Papua. Program ini menjadi bagian dari strategi nasional untuk memperkuat swasembada pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani lokal.
Kegiatan tersebut turut ditandai dengan aksi tanam padi menggunakan teknologi modern, termasuk drone pertanian, yang dilakukan bersama petani di Desa Waninggap Kai, Kecamatan Semangga, Kabupaten Merauke, Papua Selatan, pada Sabtu.
Amran menegaskan seluruh program yang berjalan di Papua Selatan dirancang untuk masyarakat, khususnya orang asli Papua. Ia menyebut pendekatan ini sebagai upaya mempercepat pemerataan ekonomi berbasis sektor pertanian.
“Seluruh program cetak sawah dan optimalisasi lahan ini diperuntukkan bagi masyarakat, khususnya putra-putri asli Papua,” ujar Amran di Merauke.
LUAS LAHAN PRIORITAS DAN SEBARAN PENGEMBANGAN
Pemerintah menempatkan Papua sebagai salah satu wilayah prioritas pengembangan pangan nasional. Hingga 2026, total pengembangan mencapai 83.030 hektare cetak sawah dan 54.399 hektare optimalisasi lahan di seluruh Tanah Papua.
Dari total tersebut, Papua Selatan menjadi pusat terbesar dengan 48.934 hektare cetak sawah dan 53.499 hektare oplah. Hampir 100 ribu hektare kawasan ini diproyeksikan menjadi lumbung pangan baru di Indonesia timur.
Sementara itu, pengembangan juga dilakukan di wilayah lain, meliputi Papua dengan 24.248 hektare, Papua Barat Daya 4.675 hektare, Papua Barat 3.373 hektare, dan Papua Pegunungan 2.000 hektare.
Amran menilai tingginya minat masyarakat terhadap pembukaan lahan baru menunjukkan program ini diterima secara positif oleh warga setempat. Ia menegaskan bahwa pemerintah tidak mengambil hak masyarakat, melainkan meningkatkan produktivitas lahan yang ada.
PENINGKATAN PRODUKTIVITAS DAN DAMPAK EKONOMI PETANI
Mentan Amran menjelaskan bahwa program cetak sawah dan oplah di Papua telah memberikan dampak nyata terhadap peningkatan produksi pangan. Indeks pertanaman di wilayah Merauke, misalnya, naik dari 1,05 menjadi 1,82 hingga 2,00.
Peningkatan tersebut berdampak langsung pada kenaikan produksi padi, luas panen, dan pendapatan petani. Dalam beberapa kasus, pendapatan masyarakat disebut meningkat hingga 300 persen setelah program berjalan.
“Sekarang justru masyarakat meminta tambahan cetak sawah karena hasilnya meningkatkan kesejahteraan,” kata Amran.
Pemerintah juga merespons cepat kebutuhan operasional di lapangan, termasuk ketersediaan bahan bakar. Saat ditemukan kekurangan solar untuk alat pertanian, Kementerian Pertanian langsung berkoordinasi dengan Pertamina agar pasokan segera ditambah.
Langkah ini dilakukan untuk memastikan seluruh aktivitas pertanian modern tetap berjalan tanpa hambatan.
baca juga: “Kementan: Cetak sawah berbasis komunitas tingkatkan ekonomi masyarakat“
PENERAPAN TEKNOLOGI PERTANIAN MODERN DI PAPUA
Selain membuka lahan baru, pemerintah juga memperkuat transformasi sektor pertanian melalui teknologi modern. Petani di Merauke kini mulai menggunakan alat mesin pertanian, sistem irigasi, benih unggul, hingga drone untuk pemetaan dan penyemprotan lahan.
Mentan Amran menegaskan bahwa teknologi tersebut bukan hanya meningkatkan produktivitas, tetapi juga mempercepat proses adaptasi petani terhadap sistem pertanian modern.
“Petani Merauke sudah mampu mengoperasikan alat pertanian modern seperti di negara maju,” ujarnya.
Pendampingan juga dilakukan melalui brigade pangan dan pelatihan intensif agar petani dapat mengelola lahan secara lebih efisien dan berkelanjutan.
MERAUKE JADI PUSAT KAWASAN PANGAN PAPUA
Gubernur Papua Selatan Apolo Safanpo menyatakan bahwa Kabupaten Merauke kini menjadi pusat utama pengembangan pangan di Tanah Papua. Dari total program cetak sawah dan oplah, sebagian besar terkonsentrasi di wilayah tersebut.
Menurutnya, lebih dari separuh program cetak sawah dan hampir seluruh optimalisasi lahan berada di Merauke. Kondisi ini menjadikan wilayah tersebut sebagai tulang punggung ketahanan pangan Papua.
Pemerintah Provinsi Papua Selatan juga menyatakan dukungan penuh terhadap proyek strategis nasional di sektor pangan. Program ini dinilai sejalan dengan visi pembangunan Presiden Prabowo Subianto dalam memperkuat ketahanan pangan nasional.
PENUTUP: MENUJU LUMBUNG PANGAN INDONESIA TIMUR
Program cetak sawah dan optimalisasi lahan di Tanah Papua diproyeksikan menjadi fondasi penting dalam memperkuat ketahanan pangan Indonesia. Dengan total 137 ribu hektare pengembangan, Papua diarahkan menjadi salah satu lumbung pangan baru nasional.
Pemerintah menargetkan program ini tidak hanya meningkatkan produksi beras, tetapi juga memperkuat ekonomi masyarakat lokal melalui pertanian modern yang berkelanjutan.
Ke depan, sinergi antara pemerintah pusat, daerah, dan petani diharapkan mampu menjadikan Papua sebagai kawasan strategis pangan yang mandiri, produktif, dan berdaya saing tinggi.
baca juga: “Prabowo Puji Polri Bantu Ketahanan Pangan dan MBG“