Bappenas Dorong Sains, Teknologi, dan Matematika sebagai Basis Pembangunan
Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy menilai matematika, teknologi, dan sains akan menjadi fondasi penting pembangunan Indonesia ke depan. Penguatan ketiganya diperlukan untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya serta memperkuat daya saing nasional.
Rachmat menyampaikan pandangan tersebut saat penandatanganan Perjanjian Kerja Sama tentang Pembentukan dan Pengembangan SDGs Entrepreneurial Center bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), sebagaimana dikutip dari keterangan resmi di Jakarta, Rabu.
Penguatan Riset untuk Meningkatkan Nilai Tambah
Menurut Rachmat, kapasitas riset, sains, dan teknologi perlu terus diperkuat untuk menjawab kebutuhan pembangunan Indonesia yang semakin kompleks. Riset tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan pengetahuan, tetapi juga mendorong terciptanya inovasi yang dapat memberikan manfaat nyata.
Ia menekankan pentingnya BRIN memiliki kapasitas kuat dan jangkauan luas. Kondisi tersebut diharapkan dapat membantu Indonesia mengolah comparative advantage menjadi competitive advantage melalui riset, inovasi, serta penerapan teknologi.
Pendekatan tersebut membuat hasil penelitian tidak berhenti pada keluaran administratif atau akademis. Riset perlu diterjemahkan menjadi produk, layanan, kebijakan, dan solusi yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat serta meningkatkan nilai ekonomi.
SDGs Entrepreneurial Center Perkuat Kolaborasi Lintas Sektor
Rachmat mengatakan pengembangan SDGs Entrepreneurial Center perlu melibatkan berbagai pemangku kepentingan. Peneliti, pelaku usaha, pemerintah, akademisi, donor, dan komunitas lokal memiliki peran dalam menciptakan ekosistem inovasi yang berkelanjutan.
baca juga: Perhatikan Aturan Baru Bagasi Garuda Indonesia, Berlaku 1 September
Pemerintah juga mendorong pusat tersebut menyediakan layanan riset, data, dan lisensi teknologi dengan standar yang unggul. Setiap kegiatan diharapkan memiliki orientasi terhadap dampak sehingga hasil inovasi dapat memberikan manfaat yang terukur bagi masyarakat.
Kolaborasi lintas sektor menjadi penting karena pengembangan inovasi membutuhkan dukungan dari berbagai bidang. Peneliti menghasilkan pengetahuan, dunia usaha mengembangkan penerapan komersial, sedangkan pemerintah dapat menyediakan kebijakan dan ekosistem pendukung.
Rachmat menegaskan penandatanganan kerja sama tersebut merupakan langkah awal. Ia berharap kesepakatan itu segera diwujudkan melalui program konkret yang mampu mendorong kebangkitan nilai tambah dari sumber daya, karya, serta modal manusia Indonesia.
BRIN Dorong Implementasi Teknologi untuk Pembangunan
Kepala BRIN Arif Satria mengatakan kerja sama dengan Kementerian PPN/Bappenas menjadi bagian dari penguatan ekosistem riset dan inovasi. Upaya tersebut diarahkan untuk mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (TPB/SDGs).
Arif menilai inovasi dan teknologi perlu terus diimplementasikan agar hasilnya dapat digunakan untuk menyelesaikan berbagai persoalan pembangunan. Dengan demikian, kegiatan riset dapat memiliki hubungan yang lebih kuat dengan kebutuhan masyarakat dan agenda pembangunan nasional.
Kolaborasi Bappenas dan BRIN diharapkan memperkuat hubungan antara riset, inovasi, dan pembangunan. Pendekatan tersebut dapat membantu Indonesia meningkatkan nilai tambah sumber daya sekaligus membangun daya saing melalui pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Ke depan, keberhasilan agenda tersebut akan sangat bergantung pada kemampuan menghubungkan hasil riset dengan kebutuhan nyata di lapangan. Penguatan ekosistem inovasi juga menjadi salah satu kunci agar sains, teknologi, dan matematika tidak hanya menjadi basis pengetahuan, tetapi turut menghasilkan manfaat ekonomi dan sosial bagi Indonesia.